05 Jun 2009

Kuala Lumpur in Memories













BERSEGERA MEMBAYAR HUTANG

Assalamualaikum Dan Salam Sejahtera,

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang


BERSEGERA MEMBAYAR HUTANG

Dalam suasana kegawatan ekonomi pada masa ini, maka kita hendaklah berhati-hati supaya tidak terjebak dengan budaya berhutang. Sikap suka berhutang boleh mendatangkan kesan buruk kepada manusia seperti tekanan emosi, muflis, kehilangan semangat untuk bekerja, kecelaruan fikiran, merompak, melacur, kehidupan keluarga yang tidak bahagia, dan tidak diampuni dosanya oleh Allah s.w.t. Ini selari dengan hadith Rasulullah s.a.w yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang menegaskan:

Mafhumnya: “Sesungguhnya Allah s.w.t mengampunkan segala dosa orang yang mati syahid (di jalan Allah) kecuali (dosa yang melibatkan) hutang piutangnya.”


Agama Islam mengharuskan seseorang itu berhutang khususnya dalam keadaan darurat dan sangat-sangat memerlukan kewangan untuk meneruskan kehidupan. Walau bagaimanapun, Islam sangat teliti dalam soal memberi, menerima, dan membayar semula hutang tersebut.

Pada dasarnya isu hutang dan pinjam meminjam berkait rapat dengan sikap amanah pemiutang dan penghutang. Sifat amanah dilihat sebagai satu kontrak yang membuktikan semangat tolong menolong, kasih sayang, dan ketinggian iman seseorang antara mereka yang mampu dengan mereka yang berada dalam kesusahan.

Firman Allah s.w.t dalam surah al-Baqarah ayat 283:

Maksudnya: “Kalau yang memberi hutang percaya kepada yang berhutang, maka hendaklah orang yang dipercayai itu menyempurnakan amanahnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya.”

Oleh itu, Islam telah menetapkan bahawa setiap yang berhutang wajib melaksanakan amanah dan bersifat jujur membayar hutang mereka setelah berkemampuan. Bagi sesiapa yang suka melewat-lewatkan atau menangguhkan pembayaran hutang ini, maka maruah mereka menjadi hina, hidup hilang keberkatan dan tidak diredhai oleh Allah s.w.t, amalan kebajikan tertolak, dan tergolong dalam orang yang zalim.

Akhir-akhir ini bukan sahaja yang berhutang menjadi korban, bahkan ahli keluarga mereka turut terbabit sama seperti diugut, dipukul, di samun, dan dibunuh. Apa yang membimbangkan ialah azab Allah s.w.t di hari akhirat kelak.

Diantara tanggungjawab menunaikan amanah berhutang agar mendapat keredhaan Allah s.w.t dengan langkah berikut:

Pertama: wajib membayar hutang bagi memelihara hak manusia dan hak Allah s.w.t,
Kedua: bersegera membayar hutang jika sudah berkemampuan,
Ketiga: jangan mudah terpengaruh dengan budaya hidup mewah tetapi tidak mampu membayar; dan
Keempat: Pada prinsipnya mereka yang berhutang kerana memenuhi keperluan asasi keluarga seperti berhutang membeli beras, ikan, membayar bil air, letrik dan sebagainya yang digolongkan sebagai asnaf al-Gharimin yang berhak mendapat bantuan zakat.

.:: HIKMAH BERDIAM DIRI ::.

Assalamualaikum & Salam Sejahtera,

HIKMAH BERDIAM DIRI

Manusia berbicara setiap masa. Bicara yang baik akan membawa keselamatan dan kebaikan kpd manusia. Jika bicara tidak mengikut adabnya, manusia akan merana di dunia dan di akhirat. Di dunia akan dibenci oleh manusia lain manakala di akhirat bicara yang menyakiti hati org lain akan menyebabkan kita terseksa kekal abadi di dalam neraka Allah SWT.

Bagi mereka yg beriman, lidah yg dikurniakan oleh Allah itu tidak digunakan utk berbicara sesuka hati dan sia-sia. Sebaliknya digunakan utk mengeluarkan mutiara-mutiara yg berhikmah.

Oleh itu, DIAM adalah benteng bagi lidah manusia drp mengucapkan perkataan yang sia-sia.

Hikmah Diam

1. Sebagai ibadah tanpa bersusah payah.
2. Perhiasan tanpa berhias.
3. Kehebatan tanpa kerajaan.
4. Benteng tanpa pagar.
5. Kekayaan tanpa meminta maaf kpd orang.
6. Istirehat bagi kedua malaikat pencatat amal.
7. Menutupi segala aib.

Hadis2 Rasullulah mengenai kelebihan diam yg bermaksud:

* "Barang siapa yg banyak perkataannya, nescaya banyaklah silapnya. Barangsiapa yg banyak silapnya, nescaya banyaklah dosanya. Dan barangsiapa yg banyak dosanya,nescaya neraka lebih utama baginya". ( RW ABU NAIM )*

"Barang siapa yg beriman kpd Alah dan Hari Akhirat, maka hendaklah ia berkata yg baik atau diam". ( RW BUKHARI & MUSLIM )*

"Barangsiapa diam maka ia terlepas dr bahaya". ( RIWAYAT-TARMIZI )

Madah Dari Hukama:

* BANYAK DIAM TIDAK SEMESTINYA BODOH, BANYAK CAKAP TIDAK SEMESTINYA CERDIK, KRN KECERDIKAN ITU BUAH FIKIRAN, ORG CERDIK YG PENDIAM LEBIH BAIK DR ORG BODOH YG BANYAK CAKAP.

* MENASIHATI ORANG YG BERSALAH , TIDAK SALAH. YANG SALAH MEMIKIRKAN KESALAHAN ORANG..

* KALAU ORG MENGHINA KITA, BUKAN KITA TERHINA, YG SEBENARNYA ORG ITU MENGHINA DIRINYA SENDIRI.

Manusia tidak akan dapat mengalahkan syaitan kecuali dgn diam. Jalan yg terbaik ialah diam kalau kita tidak dapat bercakap! kearah perkara2 yg baik. Bicara yg baik adalah lambang hati yang baik dan bersih yang bergantung kpd kekuatan iman pada diri manusia.

Wallahualam.

04 Jun 2009

Jangan Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu


Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa.Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Sungguh semua itu telah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.

Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa, masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu, majlis-majlis dzikir yang akan mengantarkan pada ketenteraman jiwa.

Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mahu bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain.

Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.

Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu rizki, jabatan atau kedudukan, pasti akan Allah sampaikan. Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki. Meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.." (al-Hadiid: 22-23)

Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh. Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita, bukannya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah: "Pokoknya harus dia Ya Allah! Harus dia, karena aku sangat mencintainya. " Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa. Dan akhirnya kalau pun Allah memberikannya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkannya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkannya dengan marah karena niat kita yang terkotori.

Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan ini dari Allah:

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kamu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kamu. Allah Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (al-Baqarah: 216)

Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu di dunia ini harus benar-benar perlu, bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang Mu'min tidak hidup untuk dunia, tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak.

Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!

29 Mei 2009

Lima jenis SABAR


SABAR adalah satu sifat manusia. Ia bererti menahan dan menanggung diri daripada perkara yang tidak disukai Allah kepada yang disukai atau menahan dan menanggung diri daripada yang disukai nafsu kepada yang disukai Allah.

Berpandukan kepada pengertian itu, sabar adalah satu istilah yang mengandungi pelbagai makna dan nama.


Contohnya menahan diri di medan perang disebut berani (as-saja'ah), lawannya bacul (al-jubn), manakala menahan diri daripada suatu keinginan nafsu Arabnya disebut 'dabtun nafs' dan lawannya 'al-batr'.

Sabar adalah senjata terpenting manusia, lebih-lebih lagi diri manusia sentiasa menghadapi pelbagai ujian. Dengan sifat ini membolehkan manusia mengatasi ujian dan mencapai kejayaan.

Banyak nas yang memerintah kita bersifat sabar, antaranya bermaksud: "Hai orang-orang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap sedia (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali-Imran:200)

Cendekiawan membahagikan sifat sabar kepada beberapa jenis, iaitu:

1. Sabar terhadap kesusahan dan bala bencana yang menimpa pada manusia biasa, bahkan di kalangan nabi.

Antara yang dirumuskan al-Quran ialah sabar dalam bentuk ini termasuklah bersabar dengan kefakiran atau kelaparan, bersabar terhadap kesakitan, ketika peperangan dan ketakutan, kerana kehilangan wang, kehilangan jiwa dan harta benda.

2. Sabar terhadap keinginan nafsu yang menjadi urusan syaitan. Antaranya sabar atas tarikan dan runtunan nafsu yang rendah dan hina, termasuk bersabar dari menurut perasaan marah.

3. Sabar terhadap kemewahan. Ini termasuk bersabar terhadap kenikmatan orang lain, seperti orang kafir dan golongan taghut yang pada lahirnya nikmat tetapi pada batinnya adalah azab.

4. Sabar terhadap ketaatan yang sememangnya banyak halangan. Nafsu itu tabiatnya liar dan tidak suka kepada pengabdian, malah malas pula untuk melaksanakan amal ketaatan.

Kesabaran ini memerlukan tiga peringkat:

Sebelum dapat melaksanakan sesuatu ketaatan, perlulah memperbaiki niat dan ikhlas, sabar daripada riak yang merosakkan dan sabar untuk menguatkan keazaman.

Ketika mengerjakan ketaatan, hendaklah sentiasa berjaga dan berwaspada daripada faktor yang boleh melemahkannya.

Selepas mengerjakannya hendaklah bersifat sabar daripada melakukan suatu yang membatalkan amal ketaatannya.

5. Sabar terhadap kesusahan berdakwah ke jalan Allah. Dakwah ke jalan Allah adalah suatu usaha mulia dan suci. Ia adalah warisan daripada rasul dan nabi, mempunyai halangan dari musuh kebenaran dan kebaikan.

Harus diingat, dakwah kepada jalan Allah dan agama-Nya sangat bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsu, dengan adat dan tradisi, keseronokan dan kerehatan, pangkat dan kedudukan, bahkan kekayaan dan kekuasaan.